Sepenggal Kisah Kemarin

Haloo sobat blogger, bagaimana nih kabarnya, wah, kangen rasanya setelah beberapa hari absen dari dunia yang satu ini, pastinya saya sudah ketinggalan banyak berita dari sobat blogger semua ya. Hmm … Setelah melewati perjalanan yang panjaaang kemarin, sebenarnya bukan perjalanannya yang jauh atau gimana, tapi pengalamannya sob yang agak bikin bulu kuduk berdiri alias merinding. Tapi bukan sejenis setan atau binatang yang bikin merinding sob, melainkan dari perjalanan ini, saya bisa melihat temen saya kelojotan kangen istrinya, padahal sebelumnya … ??? 

Jadi begini ceritanya, senin (13/2/12) jam 05.30 pagi sekali kami meluncur dari Jakarta menuju tempat yang semalam sebelumnya di ceritakan oleh temanku “ini adalah tempat yang sangat jarang di sentuh oleh tangan manusia sob”, katanya. Kalimat itu yang membuat rasa penasaran sekaligus bersemangat untuk segera mengetahuinya. 

Kebetulan jarak lokasinya gak terlalu jauh, sekitar enam jam dari Jakarta untuk sampai ke desa terakhir itu, terletak di sekitar daerah tiiittt (sensor). Posisi tepatnya tidak saya sebutkan ya, bukannya gimana-gimana sob, tapi demi menjaga sisi naturalisasi dan mencegah explorasi yang besar nantinya, sehingga bisa menyebabkan kerusakan, hehe … lanjut. 

Bermodalkan informasi yang didapat dari penduduk setempat tanpa bantuan peta, kompas, GPS dan alat navigasi lainnya, kami berdua meluncur ke lokasi virgin tersebut, tapi tetep di temani seorang penduduk desa yang pernah kesana. Konon disana terdapat sebuah sungai yang mempunyai aliran air yang sangat deras dan sangat dingin, penduduk setempat meng andai kannya sedingin salju lho. Nah, sungai itu lah yang di sebut jarang terjamah manusia, Mungkin karena terletak di dalam hutan yang tidak ternama kali ya. Wah, makin penasaran ini. 

Untuk menuju kesana di perlukan waktu sekitar 9 jam paling cepat, melewati 3 bukit, dan beberapa anak sungai, mungin nanti baru emaknya kali ya, itu menurut penduduk yang mengantar kami. Tanpa banyak bla .. bla .. kami segera saja melakukan perjalanan ini, kerna waktu yang terbatas dan dorongan rasa pensaran yang besar. 

Pemandangan dari bukit pertama sob ...
Ternyata, hutan disana sangat lebat, berbeda dengan hutan yang pernah saya datangi sebelumnya sob, saking lebatnya, hari yang terang benderang saja menjadi seperti sore hari kalau di dalam hutan situ, dalam keadaan yang gelap inilah kami harus waspada, mengingat masih banyak babi hutan yang suka lalu lalang sambil cengar cengir minta dirayu, hehe, maklum, hanya kami cowok cowok kece sih di hutan itu, hehe… 

Si Akang sibuk ngapain ya ...
Singkat cerita, Hari semakin senja dan keadaan semakin gelap di dalam sana, hujan pun mulai turun, akang pemandu kami menyarankan untuk menghentikan perjalanan, karena bagi dia terlalu beresiko kalau di teruskan, di tambah kondisi jalur yang benar benar tak terlihat, karena kabut juga mulai merambat turun dengan teratur. Setelah mendirikan tenda yang memang kami bawa, segera saja kami beristirahat tentunya setelah melahap makanan yg sudah kami masak sebelumnya. 

Sungai di sebelum bukit nih ...
Malam itu suara petir terus menyambar, hujan yang lebat semakin dahsyat di temani angin yang mulai kencang dan menggoyang-goyangkan tenda kami, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari sisi kanan belantara yang kami tempati tersebut, dan memang, tak lama kemudian terlihat segerombolan babi hutan telah asik berlarian, mungkin menuju tempat peraduannya. 

Jam baru saja menunjukan arah pukul Sembilan malam itu, dimana hujan baru mulai reda, karena kantuk tak kunjung datang dan bosan berada di dalam tenda, akhirnya saya putuskan untuk keluar tenda sekedar melihat kondisi diluar sekalian menghirup udara malam itu, tapi baru saja membuka pintu tenda kami, sang pemandu yang sejak tadi tertidur pulas tiba-tiba saja terbangun dan melarang saya untuk keluar dari tenda, “banyak ular mas” katanya. Berhubung saya agak ngawur, tetap saja saya keluar dari dalam tenda, begitu tubuh ini sudah berada di luar tanpa perlindungan tenda, udara yang pertama kali saya hirup sangatlah menyegarkan, headlamp yang biasa saya gunakan pun sudah saya nyalakan, dan ketika melihat kearah atas sebuah pohon, dammm … ternyata benar sob, ada dua ekor ular yang sedang asik ngobrol, tak jelas berapa ukurannya, sekilas saya lihat corak batiknya dan diameternya kira-kira sebesar pergelangan tangan manusia normal. 

Segera saja, dengan tindakan spontan saya menjauhi pohon tersebut, sambil mengatur langkah teratur, tentunya agar si ular gak kaget toh, teman saya yang ikut keluar tenda bersama saya tadi terlihat menahan tawa, melihat air muka saya yang terkaget tersebut, hmmm … kalau saja bukan dalam kondisi becek dan basah serta gelap seperti itu, tentunya sudah saya getok tuh kepalanya, namun apalah daya sob, berhubung kondisi, ya akhirnya saya juga ikut menahan tertawa, sampai terbatuk batuk malah. 

Akhirnya dari pada riweh, segera saja kami masuk tenda dan memilih tertidur di dalam kantung tidur masing-masing untuk mengumpulkan tenaga demi perjalan besok lagi. 

*** 

Pukul 5 pagi, saya sudah terbangun (14/2/2012) namun suara gemiricik hujan masih terdengar dengan jelas dari luar tenda sob, dan memang sepertinya hujan menemani tidur pulas kami malam itu, dari pada bengong segera saja saya raih kompor, gas dan nesting (wadah yang biasa digunakan untuk memasak) untuk membuat kopi sekaligus sarapan untuk pagi itu. Dua manusia yang sedang terlelap juga tak kalah beringasnya ketika ku pukulkan dua buah nesting dengan sangat keras sambil ku teriakan suara penuh kegaduhan “bangun bangun, jam berapa ini”, hehe mereka bangun sambil sewot, bersungut sungut sob, kesel kali ya, lagi tidur di recokin sama suara ngejreng, tapi mau bagaimana lagi waktu terus berjalan dan saya gak mau kehabisan waktu dalam perjalanan itu. 

Hingga pukul 08.00 hujan belum juga berhenti, dari pada berlama disitu gak jelas, terpaksa perjalanan kami lanjutkan dengan menembus hujan menempuh bukit selanjutnya. Kala itu matahari seperti sangat sombong sob, jelas sudah hingga pukul sebelas siang dia baru menampakan dirinya, memberikan sedikit kehangatan pada kami. 

sungai sebelum hutan lagi ...
Ternyata menembus bukit yang kedua ini tak seperti bukit pertama kemarin sob, selain hutan yang lebih gelap dan lembab, jalur perjalananpun sama sekali tidak ada, sitidaknya tiga kali kami mutar muter gak jelas arah mencari jalur yang sedikit terbuka, namun usaha itu tak membuahkan hasil, di guyur hujan sepanjang perjalanan dan udara yang terus mendingin, membuat kondisi tubuh kami sedikit lemah, untuk menghangatkan seisi tubuh ini, kuusahakan untuk berhenti sejenak sembari memakan sedikit persediaan makanan kami dan secangkir kopi dengan harapan kondisi bisa prima lagi. 

Sambil istirahat itulah, sesekali terdengar suara batuk dari mulut temanku ini sob, sepertinya udara dingin sudah masuk tubuhnya (masuk angin) awalnya suara batuk itu hanya sesekali, namun setelah berjalan dua jam dan si akang seperti kehilangan arah, suara batuk teman ku ini semakin kencang terdengar seperti tiada henti. “wah gawat ini” pikirku. 

Tempatnya enak sob untuk makan siang  ....
“break” kataku, memberi tanda agar si akang dan teman ku yang berjalan didepanku segera berhenti sejenak, kutanyakan sama si akang “bagaimana kang, jalurnya benar ini?”, karena kurasa dari tadi kami hanya berputar putar saja, gak jelas kearah mana kami melaju. “jujur kang, saya bingung, dari tadi kok kayanya kita muter muter terus ya” sahut si akang, kali ini terlihat raut yang cemas dari mukanya. wah, ternyata bener soal firasatku ini. 

Temanku yang sedari tadi terbatuk batuk gak mengeluarkan suara apapun selain batuk yang semakin kencang, kulihat lagi raut wajahnya, sepertinya mengisaratkan agar kami kembali kebukit pertama lagi. “ya sudah kang, kita balik lagi aja ya, sepertinya gak beres kalo diterusin ini”. si akang mengiyahkan saja. Hmmm … jelas sudah, kami telah tersesat, si akang yang tahu jalur saja nurut ketika di ajak balik lagi. 

Kali ini, untuk perjalanan balik terpaksa saya harus mengambil posisi depan sob, dari pada si akang nanti nyasar lagi, lagipula saya punya kebiasaan mengingat arah jalur yang pernah terlewati, seperti tersimpan gitu dalam memori otak ini, aneh memang. 

Singkatnya, sekitar pukul 10 malam, kami baru sampai pada tempat pertama kali kami mendirikan tenda, hari itu terasa berat sob, ya berat, karena selain hujan yang tiada berhenti mengguyur tubuh kami, waktu kami pun semakin menipis, karena sebelumnya kami hanya menjadwalkan perjalanan itu untuk dua hari, sehingga logistic pun hanya kami persiapkan untuk dua hari saja. Terus di tambah teman yang terbatuk batuk sehingga laju tubuhnya menurun sehingga terasa sangat lambat, sedangkan beban ransel di punggung semakin mengganda lantaran air hujan terus menambahnya. 

***

Dengan sisa tenanga yang masih kami miliki, tenda segera didirikan dan setelah mengisi perut dan untuk menghilangkan kantu kami langsung tertelap di dalam sleeping bag masing masing. Sesekali terdengar suara batuk dan gumaman dari mulut temanku ini, namun ku hiraukan, karena tadi sudah kuberi dia obat batuk, yang memang sudah kami persiapkan di dalam kotak P3K. 

Riup riup, ku dengar suara burung saling besahutan, indah sekali, kucoba membuka mata ini, dan jrenggg, pagi telah tiba, kali ini sedikit sinar matahari terlihat menembus ranting-ranting beberapa pohon yang besar itu, hujan yang dari kemarin menemanipun kini sudah pulang, hari ini langit mungkin cerah, karena pandangan saya tak dapat menembus lebatnya hutan untuk melihat langit. 

Setelah sarapan dan menenggak segelas kopi, kami sedikit mendiskusikan, tindakan apa yang akan kami lakukan, apakah melanjutkan perjalanan ketempat virgin itu ataukah pulang, tapi dengan melihat kondisi teman yang sedang batuk dan persediaan makanan yang tidak akan cukup untuk satu hari kedepan, terpaksa keputusan untuk pulang harus diambil, akhirnya dengan membereskan tenda dan mengatur isi ransel yang mulai berkurang bebannya, kami melesat turun menuju desa dimana kami mulai perjalanan ini kemarin, dan tak perlu memakan waktu yang lama, sebelum pukul dua hari itu, kami sudah sampai di tempat dimana kami mulai kemarin. 

Sawah di samping rumah tempat kami nginap ...
karena kondisi masih lelah dan teman sayapun masih terbatuk-batuk karena masuk angin kali ya, kami putuskan lagi untuk menginap di salah satu rumah penduduk disana. Dan tau gak, apa yang terjadi malam itu, sesuatu yang selama ini samar menjadi jelas sob. 

Jadi saat kami menikmati kopi malam itu di teras rumah penduduk yang kami tumpangi, teman saya mencoba bermain-main dengan hape miliknya, berkali-kali ia keprek-keprek tuh hape menggunakan kedua tangannya, sambil bersungut sungut gak dapet sinyal katanya. Saya yang dari tadi melihat kelakuan dia lantas bertanya dong “kenapa si loh, udah tau di tempat kaya gini, masih aja maenin hape, mendingan lo matiin aja, percuma gak akan dapet sinyal sob” sambil ngeledek. Eh, tau gak, dengan matanya yang sinis, dia memandang saya sejenak lalu berkata “sial nih hape, gak ngerti amat ya, gw lagi kangen nih sama bini gw”. “wew, kok bisa “, “iyalah, gw punya bini, emang elo, bujang lapuk”, begitu katanya sob, sial. 

“Tumben banget lo, kangen bini, biasanya lo cuekin aja tuh bini lo”, 

“tau, nih, dari kemaren, sewaktu di hutan mutar muter gak jelas, tiba-tiba aja gw keingetan dia,” 

“pasti ada sebabnya dong?” 

“au ah gelap, yang jelas tiba-tiba aja gw kangen bro, kayanya selama ini gw salah dah sama dia, gw udah nyia nyiain dia, gw tinggal tinggal terus, kesono kemari, gw sering nyuekin dia, kadang gw marahin, kayanya gw salah deh” 

“makanya, kalo punya bini itu di jagain, di sayang, biar gak nyesel” hehehe, saya mencoba ceramahin teman ini sob. 

“sok tau lo, kaya pernah kawin aja, au ah, gw pengen buru-buru pulang aja nih rasanya, mana hape gak idep lagi, sial nih” sambil ngoprek-ngoprek hape nya lagi. 

Hehey, tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya dan melangkah sekita dua meter, tak lama terdengar suara isak tangis yang begitu ngilu deh kalau mendengarnya, dan jelas itu suara dari mulut temanku, entah apa yang membuatnya begitu, tapi yang jelas perjalanan kemarin telah memberinya pelajaran yang begitu dahsyat, sehingga dia bersikap seperti saat ini. 

Saya hanya melihat, tak coba mendiamkan dan tak coba menanyakan, saya rasa itu tak perlu, tangisan itu bukan suatu kepahitan saat itu, tangisan itu adalah sebuah anugrah dan puncak dari rasa syukurnya. Mungkin juga tangisan itu bentuk melepaskan emosi yang dari kemarin dia tahan, saya juga kurang paham, namun yang jelas tangisan itu telah membuat mata dan hatinya terbuka, bahwa selama ini dia telah menyia-nyiakan pasangan hatinya. 

Mungkin itu saja sobat yang bisa saya bagi dari kisah perjalanan kemarin, penilaian dari tulisan ini saya serahkan kepada sobat sekalian, namun pastinya ada hikmah yang dapat di ambil dari setiap kisah. akhir kata saya ucapkan “ Jagalah dengan baik apa yang sudah kau miliki, janganlah di sia-sia kan”.

info :
maaf ya, kalau fotonya kurang mendukung, karena sampai tulisan ini terpost, kamera masih rusak akibat diguyur hujan, hehey !!!
.

Komentar

  1. Wah... Perjalankan yang menyenangkan. Bagus juga idemu mempublikasikan perjalananmu tanpa memberitahu letaknya demi kelestarian lingkungan agar tidak kena usilan2 jahil. Namanya manusia.. #nyinggungdirisendiri. Lah aku apa dong! Ahahah #nyengir

    BalasHapus
  2. @Faizal Indra kusumaiya sob, takutnya nanti malah rusak, tahu sendiri lah, seperti apa perbuatan mereka sama alam ini, jadi mungkin ini cara terbaik bagi saya saat ini :D

    BalasHapus
  3. Waaah... Aku baca runtut dr awal sampai akhir.. Jadi inget soe hok gie yg doyan perjalanan ke puncak.. Eh tp ini jelajah hutan ya? "̮♡hϱ♡hϱ♡hϱ♡‎​"̮ keren deh \(^_^)/

    Waaah bener tuh, kalo punya istri musti disayang, mungkin keinget kalo dianya sakit ada yg ngerawat, lah kalo pas lagi sm bujang lapuk? Siapa yg ngerawat? Ngerawatpun gak ada chemistrynya meen, bukan lawan jenis sih.. Hahahaaa.... Bener2 sial ya :p

    Kopinya mantab nih, jadi kangen sm pacet.. Hiks3x.. Yang dulunya bisa naik2 ke gunung pacet, menjelajah hutan pinus dan bermain di sungai kecil sambil nyruput kopi.. Hehemm

    BalasHapus
  4. @Uswahasik .. ada yang baca runtut, beda jauh neng kalo sama Gie mah, saya termasuk abal-abal ^_^

    setuju, tapi soal bujang lapuknya, biasa dong #nunjuk jari :D

    emang kalo ngopi tuh paling enak di tempat yang dingin terus terbuka seperti di ala ya, bagi dong kopinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh.. Iyyaa, kebetulan lg nganggur di pagi yang diguyur hujan... Bikin tambah nikmat blogging n kopinya heheheuy :D

      Wkwk :D siapa tuh yg nunjuk2 jari? Jadi mana nih oleh2nya dari sana? Pisang segebok kek, uler piton kek, apa kek....

      Hapus
  5. Waaaaaaaaahh...kayak seru nih perjalanannya !
    Ternyata om stumon anak traveler yah ^^
    Dari fotonya, memang benar2 alami dan fresh pemandanganx, subhanallah :)

    Btw, hebat banget bisa ingat jalurx, klo sy mah ga bisa ingat jalan klo baru first time, musti dilalui brulang2 dlu :D

    Knp ga skalian nancepin bendera disana om, hehe ^^

    BalasHapus
  6. @Uswahlho, ngopi apa nganggur nih?? yg jelas yg mana ???

    tau monkey dableg, masih gak puas udah dikasih oleh2 cerita kaya gini jeng, wew #geleng pala 7 hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yapp... Pengalamannya seruuu abiiis dah pokonya.. Pecinta alam itu punya kenikmatan tersendiri ya, ketika harus berbahasa langsung dengan alam, bersahabat dengan alam, dan cerita2 yang didongengkan alam sambi bercumbu kopi dengan alam \(^_^)7 waduuh alam mbah dukun kalee.. ˆ⌣ˆ✗¡✗¡✗¡ ˆ⌣ˆ

      Hapus
  7. @Nhinisbukan seru lagi inimah, sedih malah, sedih gak nyampe, hehe :D

    itulah kerusakan pada organ otak saya Nis, ^_^
    gmn mau nancepin bendera, nyampe aja engga, heehe :D

    BalasHapus
  8. ini komen ke 5 yg gue ketikin, gara-gara 2 kata kode verifikasi yg gk jelas plus sering kepotong! bolak-balik ke mobile view ke versi dekstop, yg penting gue bs komen disini Sob! moga2 kali ini berhasil, entar baru komen yg nyambung ke postingan! bhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. *nabok jidad

      Sama eksak, aku juga musti mentelengin ni verifikasi, uda kayak dan brown aja ini memecahkan da vinci code hahaaa...

      Hapus
  9. @eksakwaduh, gawat nih, okeh sob, kalo gitu verifikasinya gw buka ya, khusus buat elo, apa sih yg enggak ^_^

    BalasHapus
  10. adohhh napa ga dibagi 2 aja sih tulisannya :(
    panjang aja gitu
    tapi udah liatin gambar2 nya sih
    tar dilanjut mbacanya, yg penting udah tampak muka dolo yak hehehehe

    *mo nerusin nyautin komen yg ikutan GA*

    BalasHapus
  11. ah senangnyaaaaaaaaaaa

    ga pake CAPCAI lagi di sni ...

    horeeee ... thank you Mo

    BalasHapus
  12. @nicampereniqueitu dia mba, karena saya orangnya kurang bijak jadi takut gak rata pembagiaannya, hehey, silahkan saja kalau mau di lanjut nanti saat makan siang, sore atau malam, yg penting si mba bahagia lho :D

    silahkan juga di lanjutin lawatannya ke tempat lainnya, hati-hati ya, kalo nyasar balik lagi :D

    BalasHapus
  13. @nicampereniqueiya mba, CAPCAI nya udah di goreng sama mamaku, ^^
    sama-sama mba ^^

    BalasHapus
  14. ooo ... begitu rupanya. privilege buat eksak maka tu komen kaga pake capcai
    lagian ngapain pake capcai klo bisa engga? *mlotot kesel*

    BalasHapus
  15. @nicampereniqueya elah, tuh mata, pake di plototin,

    tadinya mencoba menghindari serangan spammer mba, tapi kayanya sekarang kondisi sudah status satu kuadrat, jadi aman lah, oceh ^^

    BalasHapus
  16. wah masya Allah ceritanya bikin saya menganga-nganga... jadi ingin juga pergi ke tempat yang dirahasiakan namanya itu... keren lo viewnya... apalagi sungai-sungai jernih itu. :D
    temannya sadar di tengah hutan ya,, yah menangis karena rindu memang cara yang paling ampuh. mending dikeluarkan supaya lega dan plong....

    BalasHapus
  17. Waaah ... perasaan kenal. DI Bandung kah? hehe *sotoy*
    Waaah, tadabur alam sambil muhasabah yang bermanfaat sampai temannya inget "dosa" begitu hehe :D

    BalasHapus
  18. @Uswahwew, emang si alam anak mana sih, apa segitunya di sebut-sebut mulu ^^

    tapi emang di alam saya kita bisa lebih santai dan terbuka ya pastinya, tau dah kalo alamnya blm pulang :D

    BalasHapus
  19. @Uswahwkwkwk ... mentelengin tuh apa sih neng ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alam masih sibuk menciptakan koreografi baru \=D/

      Emhh, mentelengin itu basa jawa ya? Hahaa lupa aku, menteleng nganti ngowoh :p basa indonesanya melotot @_@

      Hapus
  20. @hima-rainbaca santai aja ya, jangan sambil lari, jagi gak megap megap gitu lho, makasih, udah bilang saya keren eh riviewnya.
    iya, akhirnya dia dapet pelajaran dari situ, soalnya waktu sekolah sering bolos sih dia :D

    BalasHapus
  21. @elfarizipokoknya, tempatnya gak akan di kasih tau, RAHASIA :D
    temennya gak inget dosa sob, tapi inget istrinya hahaha ^_^

    BalasHapus
  22. baca dr awal sampe akhirrr~
    cerita perjalanannya keren deh,

    cuma ada campur" antara kata saya dan ku, ngga pinter EYD, tpi kayaknya lebih enak kalo pake bahasa gaul aja :D

    BalasHapus
  23. wah :D
    akhirna yg jalan2 udah tepostkan juga :D

    BalasHapus
  24. @Stupid monkeyhaha pak stumonnya juga keren kok.. haha
    temannya kok tidak ditepok2 bahunya kayak dipelem2 itu :D cup cup cup udah jangan menangis

    BalasHapus
  25. bagus, journal yang bagus.

    eh tp yg bagian ular itu, q bisa ngebayangin kalo bang mon mirip panji.

    BalasHapus
  26. jagalah dengan baik apa yang sudah dimiliki,,,setuju banget dengan kalimat itu..bisa jadi kebersamaan saat ini dengan yang kita miliki adalah yang terakhir..maka janganlah sia-siakan agar tak menjadi sesal esok hari :-)

    BalasHapus
  27. wah, kalo aku melihat ular kecil aja udh takut mas.. apalagi dua ekor bergelantungan di atas pohon, bercengkrama begitu, hiiii sereeem..

    sungguh pengalaman yang sangat mendebarkan ya mas... dan juga mengharukan....

    aku yakin setelahnya teman mas itu akan jauuuuh lebih sayang pada pasangannya...

    setiap kejadian pasti membawa hikmah.. trims for share yaaa....

    BalasHapus
  28. kamu bilang pakai headlamp itu jd keingat kalau masuk ke dalam gua yg gelap ya Mon.

    Aku sama suamiku kalau dalam perjalananya panjang juga suka bawa kompor mini dan perlengkapannya , jd bisa berhenti kapan saja dan makan di mana saja :D

    memang nggak ada peta khusus buat penunjuk ya Mon kok bisa tersesat ? apa krn daerahnya yg msh virgin itu ya ?

    andai melihat ular yg lagi ngobrol itu di siang hari pasti bisa dipotret ya Mon, cantik pasti ularnya *ngayal*

    kalau masih ada babi liar di sana , memang masih sangat perawan tempatnya ya Mon, kalau di sini mah babi liar malah banyak di ibukota jerman sono, di Berlin, sampe banyak jumlahnya mereka menyerbu kota kala malam hari, pernah nonton filn ttg ini

    kasihan kamu dibilang bujang lapuk ya :D ... benarkah ? *kok malah nanya* ... lha yg masih bujang kok malah menasehati yg lagi kangen sama istri piye toh ? apa ndak terbalik ? ^_^ ... tulisan mu ttg suami yg sesunggukan krn kangen istriny aini bgt menyentuh ya, kali apa krn saat tersesat itu ya Mon, terus dia jadi rindu sama bininya ? terus pas pulang pasti binibya dibawain oleh oleh ya

    terakhir ttg foto fotonya .. wow .. sgt hijau ... aku membayangkan sungai yg airnya sedingin salju itu mungkin buatku yg terbiasa dgn musim beku nggak terlalu dingin kali ya *sok tahu* ^_^ .... cantik cantik fotonya Mon ... sayang sekali ya kalau laam yg masih asri begini nantiny aakan rusak karena manusia belum punya kesadaran yg tinggi utk memeliharanya ... aku bayangkan pasti ratusan burung burung suka sekali tinggal di sana

    ini komentar atau postingan sih ? ^_^ .. sorry !

    BalasHapus
  29. Wah keren sob perjalannannya, sayang belum sampai tempatnya virgin ya haha...

    Ditunggu kisah kelanjutan temennya yang kangen istri tuh sob :D

    BalasHapus
  30. Seseorang baru menyadari sesuatu itu berharga setelah hampir atau sudah kehilangannya. Itulah kenapa temen ente nangis ... :D

    Pria memang setangguh batu karang, tapi kalo udah kena hatinya, selumer es krim... :D

    BalasHapus
  31. ini namanya postingan di dalam postingan mba.
    tapi klo di sini sah2 aja kok.
    bener, ga usah kuatir. Iya kan, Mo?

    *berani jawab engg, tak kirim ke sono lagi deh hahaha*

    BalasHapus
  32. @jiah al jafaraoh, gitu ya, maklum mba Jiah, saya otaknya agak erorr ...

    BalasHapus
  33. @Uswahoh, melotot toh artinya, ngarti sekarang ^_^

    BalasHapus
  34. @haris widodojangan di bayangin, gak ada mirip miripnya sob.

    BalasHapus
  35. @alaika abdullahmendebarkan, menggelitik sekaligus asik mba, untung saja tuh ular itu gak laper, kalo laper, wew, ga ngeh deh.

    iya mba, sekarang kelihatan lebih mesra tuh kayanya, hehe :D

    sama-sama ya ...

    BalasHapus
  36. @Ely Meyerwah, sering pergi ke gua juga rupanya si mba,

    kompor cs itu perlengkapan wajib saat ke arah gunung dan hutan mba, kl ga, wew bisa kelaperan tuh perut.hehe

    sayangnya saya gak punya kamera yang bagus gitu lho, kl ada mo di ajak kenalan tuh uler, terus di suruh post gaya unyu-unuy deh, ...

    wah, saya gak tahu tuh film itu, pa ya judulnya??

    emng tuh, temen saya gak pake udel kalo ngomong, tapi dimanapun berada, alam senantiasa memberikan keindahannya ya mba, makanya kita harus ikut jagain juga, tapi soal burung, disana banyak juga lho, ada yg besar-besar malah, saya gak tahu tuh burung apa namanya.

    tenang aja mba, komentar disini bebas dan gratissss, hehey...

    BalasHapus
  37. @Anak Rantauiya, sangat disayangkan, tapi mau bagaimana lagi ya.

    nanti kalo teman saya berkenan akan di lanjutkan kisah tentang dia ya sob...

    BalasHapus
  38. @Harmony Magazinehaha, begitu ya, baru tahu saya, siip sob ^^

    BalasHapus
  39. @nicampereniquewah, diancem nih, mba ely tolonggg ....

    tapi memang bener sih, disini bebas komentar, gratis lagi, hahay ^^

    BalasHapus
  40. @hima-rainwuuw, udah di keplak keplah malah kepalanya, hehe ^^

    BalasHapus
  41. ini di daerah mana bogor atau banten?

    BalasHapus
  42. @Stupid monkey

    --" wahj klo rahasia napa di posting omm

    #kaburrrrrrrrr

    BalasHapus
  43. wah kampungku banget. . . ..

    BalasHapus
  44. bang buatin template yang keren dong. . .

    BalasHapus
  45. @Si Galauyang rahasia kan, cuma nama daerah nya doang sob :D

    BalasHapus
  46. @Susu Segarwow, asik dong kalo gitu kapan kita kesana ??? hehey :D

    BalasHapus
  47. @Susu Segarwew, ini aja pake default doang kok sob, bukannya template kamu juga udah keren??? :D

    BalasHapus
  48. baru diancam begitu kok sudah mengkeret sih Mon ^_^ ..... ngaakak aku hahahaha
    memang kamu mau dikirim ke mana sih sama si Nique ?

    @Nique .... kenapa cuma diancam sih si mon itu, kok nggak langsung dikirim saja hahahaha ..waduh .. kram perutku :D

    BalasHapus
  49. @Ely Meyerwah, ternyata kalian sekongkol ya, hadeueh ... liyer saya wew :D

    tau tuh mba Niq, mau kirim saya kemana, asal jangan di jual aja jadi TKI ke negri sebrang #takut ...

    BalasHapus
  50. tentu saja sekongkol Mon, women's power gitu lho :D

    kalau dikirim sama Nique ke pegunungan Alpen gimana Mon ?

    BalasHapus
  51. @Ely Meyertetep ... :D

    tapi kalo di kirimnya kesana mah saya gak akan nolak mba, pasrah, ikhlas, se ikhlas ikhlasnya, tinggal tergantung mba Niq nya mau lempar saya di bagian mana dari atas pesawatnya :D

    BalasHapus
  52. hahahhaha .. segitunya kamu mon, nggak berani melawan ya ? sudah takut duluan sama Nique ^_^
    lha kalau pasrah begitu kamu dilempar ke bawah ya langsung beku Mon :D

    BalasHapus
  53. @Ely Meyerhaha, bukan takut mba, tapi melas, wkwkwkwk #piss mba Niq

    lho, kan saya sudah siapakan parasut, jadi tiggal mendarat di titik Aplen saja mba, #pinterkan ...

    BalasHapus
  54. pinter ? nggaklah ... parasut khan nggak ad apenghangatnya, tetep saja kamu akan langsung beku Mon saat sampai di titik alpen

    BalasHapus
  55. @Ely Meyerwew, begitu ya, trus pake penghangat apaan dong mba, emang suhu disana berapa ya kira2 ?

    BalasHapus
  56. hahahaha ... ywd mba kita kirim dia ke alpen biar membeku dan jadi patung es di sana hahaha kapan siap, Mo?

    BalasHapus
  57. @nicampereniquetanggung mba, kirim saja saya ke 7 gunung tertinggi di dunia, saya ikhlas kok, apalagi kalo di kasih ongkos sekalian =))

    BalasHapus
  58. parasut khan nggak ada penghangatnya Mon, suhunya juga tergantung, tapi kalau dipuncak gitu tentunya sudah minus suhunya ... apa kamu siap ?

    @ Nique ... iya nih , kirim ke sana saja biar jadi patung es dia ^_^

    BalasHapus
  59. @Ely Meyerharus siap, itu mimpi saya mba, :)

    Kalo mau ngirim sekalian kirim juga logistiknya ya :D

    BalasHapus
  60. baca dari awal sampe akhir dg degdeg'an, tp agak kecewa pas disebutin:["terpaksa keputusan untuk pulang harus diambil."]
    yaaahh, enggak bisa dapet deskripsi tempat virginnya donk.
    Tapi gapapa lah,.

    pas ngebaca bagian: [“ya sudah kang, kita balik lagi aja ya, sepertinya gak beres kalo diterusin ini”. si akang mengiyahkan saja. Hmmm … jelas sudah, kami telah tersesat, si akang yang tahu jalur saja nurut ketika di ajak balik lagi.]

    bikin ketawa dalam hati, si akangnya aja bisa sampe lupa jalur, gimana orang yg baru pertama kali kesanaa...

    jd kangen mbolang ama temen2.

    BalasHapus
  61. @enhas noteduuh, maaf ya, kalo ending nya gak memuaskan, tapi suatu hari akan saya cari tuh tempat sampai ketemu, sampai saya mrasa puas.

    siap kan nunggu lama ?
    Ayo kita mbolang sama-sama ;)

    BalasHapus
  62. Wah, tempatnya seru... tapi kayak panas ya?

    BalasHapus
  63. @Falzart Plaintau lah, kalo habis hujan biasanya sekalinya panas ya panas gitu deh :D

    BalasHapus
  64. eeehh bukannya kalo tempatnya seperti malah pengennya ga mau pulang kan wkwkwkwkwkwkw

    BalasHapus
  65. @Kaito Kidditulah sob, ada kalanya kita harus pulang untuk perjalanan selanjutnya, :D

    BalasHapus
  66. hmmm...ane tunggu kelanjutannya bro.
    mbolang sama-sama?
    yuk ya, yuuk.

    BalasHapus
  67. Menyimak bagi-bagi ceritanya yang lumayan panjang, belum pernah jelajah alam/hutan sampai sepuas dikau Mas. Hny pernh lintas jalan kakai menyusuri alur Bengawan SOlo dan itu pun gak sampe bawa TEnda cs. Wong nginepnya juga di pas'kan di Balai desa yg kebetulan kita lewati.

    Kalau pemandangan sawah sdh hal yg sering kulihat, tp sungai yg penuh bebatuan dengan air yg jernih mengalir gemiricik hanya beberapa kali pernah menikmati pemandangan yg demikian. Di desaku sungainya gak ada bebatuannya dan airnya juga gak jernih, apalgi kalau musim hujan...super keruh

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, berikan komentar anda mengenai posting diatas

Postingan populer dari blog ini

Perlengkapan (Masak) Pendukung Pendakian

Desain Undangan HUT RI Ke 69

Logo HUT RI Ke 71 | Vector