SAAT SI MISKIM BERKURBAN

Bagi seorang muslim berkuraan adalah suatu pembuktian ketaatan beribadah kepada Allah SWT. Sepeti yang kita ketahui tradisi ini sudah ada sejak jaman Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan anaknya Nabi Ismail AS sebagai tanda kepatuhan kepada Allah SWT. 

Banyak juga cara untuk dapat berkuban, salah satunya adalah dengan patungan kurban, biasanya untuk mendapatkan seekor sapi di perlukan tujuh orang pematung yang akan di koordinir oleh seorang yang telah di tunjuk secara demokrasi oleh anggota pematung. Nah … agar uang terkumpul saat Hari Raya tiba, patungan pun di atur sedemikian rupa. Ada yang mulai patungan setahun sebelum hari raya, ada juga tiga bulan sebelum menjelang Hari Raya, pokoknya semua tergantung dari kesepakatan bersama. 

Namun bagaimana dengan orang –orang yang seharusnya menerima kurban ?? Sebenarnya mereka juga ikut berkurban lho … walaupun hanya “kurban perasaan” . Lihat saja berita di media tahun-tahun yang lalu !! Pasti ada orang yang meninggal terinjak –injak lantaran ngantri berharap mendapatkan daging kurban. Kejadian itupun terus berulang dari tahun ke tahun yang mungkin bisa berdampak menjadi tradisi “kurban”. 

Bahkan pembagian kurban di istiqlal yang notabenenya pusat dari Masjid di tanah air dan pasti dijaga oleh puluhan pihak berwajib beratribut lengkap karena pasti ada pejabat yang hadir, masih kewalahan dengan kejadian tersebut. Maka bagaimana dengan para panitia penyelenggara kurban ?? baik dari pihak masjid, instansi swasta dan yang hanya dikelola sendiri. Apakah mereka mampu menanggulangi masalah kurban ini. 

Nampaknya dari fakta tersebut bisa diambil beberapa pertanyaan, diantaranya : 

1. Apakah si pengurban kurang ikhlas ? 

2. Apakah manusianya memang sudah tidak disiplin ? 

3. Manakah yang disebut kurban ? 

Ironik ya .. ??, saat si kaya berkurban dengan hartanya, si miskin berkurban dengan nyawanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desain Undangan HUT RI Ke 69

Perlengkapan (Masak) Pendukung Pendakian

Fungsi Dari Gelas