Willem dan Ekspedisi 23 Gunung

Sejak tinggal di Tanjung Prioktahu1962, lelaki lajang Willem Siregar Tasiam berkeinginan

menjadi Pencinta Alam.Dia merupakan anak tertua dari lima bersaudara dari keluarga pasangan Arnold Tasiam dan Marie Katuk yang berasal dari Manado.

Meski pendidikan hanya sampai SMP , tapi minat menjadi pencinta alam semakin kukuh.Apalagi dia selalu berpindah tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pelaut yang bekerja di PT PELNI .

“Saya lahir di Pontianak , ketika ayah tugas di Kalimantan Barat,” ungkap Willem yang lama tinggal di Purwokerto sebagai Guru Musik di YASMIN.Kegemaran olahraga Cinta Alam , makin tersalut ,ketika pindah rumah ke Jatinegara ,Jakarta Timur pada tahun 1971.Sejak itu Willem makin banyak melakukan komunikasi dengan tokoh pencinta alam dan mulai tahun 1997 mendaki Gunung Gede dan Pangrango , Jawa Barat.Menurut dia,Gunung Gede menjadi pendakian standar bagi pendaki pemula,kemudian di tingkatkan ke Gunung Pangrango yang mempunya medan lebih berat dan lokasinya tertutup.Disana,ada Taman Mandala Wangi yang kondisinya mirip taman di Jepang dan mempunyai hamparan Eidelweiss yang menjadi idola para pendaki.

Dipecat Dari Klub. 

Willem yang kini hilir mudik Jakarta – Purwokerto ini,pernah tercatat sebagai anggota Klub Tapak.Dalam organisasi itu,dia termasuk anggota yang super aktif sehingga meninggalkan jauh Senior-seniornya.Tidak tahu sebabnya,Willem pun di pecat dariu keanggotaan dan sejak itu dia berdiri sendiri.“Mau jalan-jalan ke Gunung kok harus biasa-biasa saja,padahal saya sendiri memang ingin mencoba terus.Ya,saya jalan sendiri bahkan bersaing dengan mereka.Dia kemudian membuat Kelompok Lapas , yang tidak mempunya anggaran dasar dan anggaran Rumah tangga 9( AD & ART ) agar lebih leluasa mengajak para pencinta alam.

Dia juga bergabung dalam Wadah Pencinta Alam Jakarta di bawah naungan Dewan Harian Nasional Angkatan 45 sampa sekarang.Pelajaran di olahraga Pencinta alam itu , membuat Willem karena dia juga selalu mengikuti even-even regional maupun nasional .Mulai tahun 1992 dia pindah ke Purwokerto dan menjadi guru misik di Yasmin cabang Purwokerto.Dia mengajar gitar klasik yang penggemarnya sangat terbatas mulai dari guru SMA,Pelajar,Mahasiswa dan Anak-anak..Kegiatan musik pun tidak berjalan mulus karena setelah pindah lokasi dari Jalan Merdeka ke jalan Yoso Darmo,mulai surut karena ada guru yang hijrah ke Yogyakarta .“ Masih betah di Purwokerto,saya juga ikut mengajar di Yasmi Banyumas ,Pina Pan Fie Lan,seorang guru piano yang tinggal di kota Banyumas.Meski surut dari guru musik,khusus guitar Klasik, Willem sangat bangga karena ada beberapa murid yang meneruskan kemampuannya sebagai guru musik.

Diantaranya,ada yang mengajar di Cirebon,ada juga yang bergabung dalam kelompok Purwa Tjaraka dan ada juga yang masih aktif sebagai pemusik. 

Pendakian Solo. 

Willem Siregar Tasiam bermimpi melakukan pendakian solo ke beberapa gunung dengan target waktu cepat.Dia pun berlatih terus,sambil mengatur jadwal yang cepat.Diapun berlatih terus,sambil mengatur jadwal yang ketat,memahami medan pendakian dengan benar. Tentu tidak melupakan untuk membangun jejaring dengan sesame pendaki di lokasi Gunung yang akan di daki.Menurut dia ,untuk melakukan ekspedisi ke beberapa gunung tidak terlalu sulit.Apalagi kalau dilakukan dengan target waktu dan melalui oersiaoan yang matang.Misalnya minta bantuan,pendakisetempat untuk mendukung kecepatan trsnsportasi menuju gunung yang berikutnya.Dia mengakui sering melibatkan para pendaki lokal.,dengan memberi tahu rencana dan jadwal pendakia.Diharapkan , mereka bisa mengajak sesama pendaki setempat untuk memberikan solusi memperpendek waktu perjalanan angargunung.Saya bangga dan berterimakasih karena kelompok local banyak membantu mengantar sampai ke lokasi pendakian berikutnya.” Ibarat barang,saya diantar secara estafet kepada pendaki berikutnya”Menurut dia, pendaki harus giat berlatih dan memahami setiap karakter gunung yang dijadikan target pendakian . Dia banyak belajar dari pendakian.Dia banyak belajar dari pendakian solo pada 14 gunung di tahun 20004. Pengalaman di cermati sambil mengumpulkan dana untuk pendakian berikutn pada 20 gunung.Terakhir,dia berhasi mendaki 23 gunung dalam waktu 22 hari

Willem Sigar Tasiam (49) pasti tidak hanya bermimpi kalau ia merencanakan ekspedisi pendakian 23 gunung dari Jawa sampai Sumbawa dalam waktu 23 hari. Pada 2005 ia mendaki secara maraton 20 gunung dalam waktu 26 hari. Pada 2006 ia mendaki 22 gunung dalam waktu 25 hari.Kegiatan itu ia lakukan dengan biaya sendiri. Untuk "Ekspedisi 23 Puncak" kali ini, yang dimulai tanggal 14 November mendatang, ia mengharapkan ada event organizer profesional yang mau mendukungnya.

Sosok Willem selama ini memang tenggelam di jajaran nama-nama besar pendaki gunung elite Indonesia. Pembawaannya yang memang bersahaja membuat sebagian besar pencinta alam mengenalnya hanya sebagai panitia gerak jalan Rengasdengklok - Jakarta, dan bukan sebagai juara tujuh kali gerak jalan tersebut!

Sebagaimana Asmujiono, prajurit Kopassus yang mampu mencapai puncak Everest tahun 1997, Willem juga menyukai lari maraton. Beberapa lomba proklamaton di Bali dan Jakarta diikutinya. Catatan terbaiknya untuk proklamation dicapai pada tahun 1995, yakni dua jam 50 menit. Sayang, tidak terekam catatan kemampuan VO2 maksimumnya, begitu juga kadar kandungan haemoglobin di dalam darahnya, dua hal yang sering dituntut bagi seorang atlet profesional. 

Untuk menjaga kebugaran, Willem secara teratur melakukan jogging selama dua jam, tiga kali dalam seminggu. Porsi itu ia tambah menjelang pelaksanaan suatu ekspedisi. Belum melibatkan pakar, memang, namun setidaknya yang patut dicontoh oleh para pendaki muda adalah kedisiplinan Willem dalam menjaga kebugaran fisiknya, ada atau tidak ada rencana perjalanan. Ia bukan tipe atlet musiman yang hanya berlatih menjelang ekspedisi. 

Willem menjelaskan, untuk ekspedisi kali ini ia tidak membutuhkan dana besar, hanya sekitar Rp 60 juta. Jumlah itu akan berkurang bila ada kalangan yang mau menyeponsori perlengkapan dan perbekalan ekspedisi. Belum lagi adanya belasan relawan yang akan menjadi pendukung kegiatan juga meringankan biaya. "Pendek kata, ini dapat dikatakan sebagai 'ekspedisi khas Indonesia'," kata Willem, yang dikenal sebagian orang sebagai pengajar privat gitar klasik 

Seri Pendakian Tematik 

Sebagai olahraga yang sulit untuk dipertandingkan, mendaki gunung memerlukan ekspedisi sebagai bukti pencapaian seseorang. Tingkat kesulitan menjadi kriteria khasnya, ditambah dengan angka ketinggian yang memang terukur. Oleh karena itu, selama ini gunung-gunung es di Himalaya telah menjadi ikon yang sulit tergantikan, karena Everest dan 13 puncak lainnya yang ketinggiannya di atas 8.000 meter di atas permukaan air laut tersebar di kawasan itu. Wajar jika kemudian para pendaki Indonesia pun beramai-ramai ingin mencoba keberuntungan ke kawasan itu agar mendapat pengakuan dari dunia internasional. 

Dampak negatif lain adalah terbengkalainya upaya pengenalan tanah air sendiri, seperti dikeluhkan Herman O Lantang, salah seorang pendiri Mapala UI. "Dari dulu kita mengadakan kegiatan ini untuk menanamkan rasa cinta kepada Tanah Air," ujar Herman. "Sampai mati kayaknya saya nggak akan selesai mengeksplorasi tanah air kita ini," ia menambahkan. 

Dalam perspektif itu, ekspedisi yang dirancang Willem merupakan hal positif yang patut didukung sepenuhnya oleh pemangku kepentingan alam Indonesia. Dari sisi pariwisata, kalau ada kecenderungan wisatawan pendaki berkantung tebal membidik puncak Everest melalui suatu tur ekstrem yang diselenggarakan oleh biro-biro perjalanan petualangan dunia, adakah Indonesia memiliki peluang untuk menjaring juga para wisatawan tersebut? 

Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mengkampanyekan seri pendakian tematik di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Tanah Air kita memiliki gunung api terbanyak di dunia, 129 buah. Letusan Gunung Tambora pada 1815 memakan korban terbesar dalam sejarah peradaban, yakni 92.000 jiwa. Apakah fakta sejarah itu kita biarkan saja sekadar sebagai catatan di buku-buku pelajaran? 

Padahal kerapatan deretan gunung api yang tersebar dari barat sampai ke timur ini yang memungkinkan dilakukannya pendakian maraton spektakuler bagi peminatnya. Sebagai perbandingan, peserta The Three Peaks Challenge di Inggris harus berkendaraan sejauh 800 km untuk mencapai base camp tiga gunung tujuan. Sementara Willem hanya akan menempuh perjalanan sekitar 1.900 km untuk ke-23 gunung yang didakinya. Ekspedisi 23 Puncak dapat diposisika sebagai bagian dari kampanye seri pendakian tematik dari gunung api semacam ini. 

Akankah Willem berhasil mewujudkan ambisinya? Secara matematis, apabila dilihat dari catatan ekspedisi 2005 dan 2006, bujangan ini akan bisa mencapainya. Jika didukung tim advance dan transportasi dari penyelenggara yang akan mengurus segala masalah tetek-bengek ekspedisi, waktu perjalanan akan terpangkas secara signifikan dan memberikan kesempatan kepadanya untuk lebih banyak beristirahat. Pengenalan medan yang makin baik juga merupakan faktor yang akan sangat membantu keberhasilan. 

Willem mencintai Tanah Air dengan caranya sendiri. Ia akan mengingatkan pendaki Indonesia untuk lebih mengenal gunung-gunungnya sendiri. Ia mempromosikan wisata pendakian gunung tropis. Melalui rekam jajaknya yang panjang, ia memberikan contoh konsistensi hidup sebagai seorang pendaki. Namun, kegiatan alam bebas memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Juga Willem dengan ekspedisi gunungnya. 

Sumber dari berbagai link

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlengkapan (Masak) Pendukung Pendakian

Desain Undangan HUT RI Ke 69

Logo HUT RI Ke 71 | Vector